PAN Prihatin UGM ‘Pilih Kasih’, Gerindra Ditolak, PSI Diterima

JawaPos.com – Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Eddy Seoparno menyayangkan sikap Universitas Gajah Mada (UGM) yang terkesan “pilih kasih” menerima politikus untuk bisa hadir di kampus. Pernyataan itu muncul karena menurutnya ada pembeda-bedaan. 

Pembedaan itu terlihat ketika UGM lebih menerima Politikus PSI Tsamara Amany tanpa halangan atau kendala apapun. Anak buah Grace Natalie yang beru lulus kuliah itu pun datang menjadi pembicara talkshow dengan tema ‘Perempuan dalam Kebijakan Publik’ di Gilib Cafe Fakultas Sosial dan Ilmu Politik UGM.

“Saya di sini berbicara sebagai murni masalah gender, masalah kekerasan seksual. Enggak ada niat kampanye apapun begitu ya. Saya enggak mengajak untuk memilih,” ujar Tsamara.

Tentu saja, kendati sudah memberikan penjelasan tersebut, kedatangan Tsamara ini menjadi perdebatan publik. Ini dikarenakan beberapa waktu lalu UGM telah menolak kedatangan Sudirman Said dan Ferry Mursyidan Baldan. Keduanya alumni UGM dan mantan menteri yang juga politikus Partai Gerindra.

Sedangkan dengan Tsamara yang merupakan pembela gerbong Jokowi-Ma’ruf Amin yang juga merupakan lulusan Paramadina tersebut, UGM menerima begitu saja.

“Kami sayangkan dan prihatin bahwa kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan, dihuni oleh civitas pemikir yang jernih dan jujur, serta induk yang melahirkan kaum cendikiawan Nasional, justru seperti terbawa arus politik dan arus keberpihakan,” kata Eddy.

Eddy berharap, kampus sekelas UGM semestinya tidak ‘pilih kasih’ dalam menghadirkan pemikir atau pelaku politik untuk memperkaya khazanah politik bagi mahasiswanya.

“Jadi misalnya memang mau memperkaya khazanah politik mahasiswa, ya jangan pilih kasih menghadirkan pemikir atau pelaku politik. Termasuk membuka diri untuk menyelenggarakan debat capres cawapres misalnya,” paparnya.

“Kalau enggak gitu ya mending sama sekali menutup pintu untuk segala urusan politik praktis, baik secara langsung maupun berkedok diskursus ilmiah,” tambahnya.

Eddy berharap kedudukan kampus yang merepresentasikan kejernihan dan kebebasan berpikir, pusat ilmu pengetahuan dan kejujuran akademik jangan sampai terciderai karena pemberlakuan standar ganda sebagaimana yang terjadi saat ini.  

“Mari kita semu jujur dan berlaku adil,” pungkasnya.

(sat/JPC)